Langsung ke konten utama
16 Juli 2015

malam takbir hari raya berkumandang dan jari-jariku sekedar bosan ingin mengetikkan sesuatu di atas papan keyboard. selama liburan ramadhan di rumah, berasa dicekam oleh nilai-nilai uas kuliahku semester ini yang agak entah kemana-mana. perasaan mencekam ini malah ingin membuatku melakukan banyak hal untuk menutupi kegilaan, misalnya saja ingin membuat boneka, ingin berkreasi dengan memasak, bereksperimen, menulis cerita...
ah ya, menulis cerita. aku bertanya-tanya kapan ceritaku dengan tema kelam ini bisa dipublikasikan? bukan karena ingin mendapatkan sesuatu yang sangat besar tetapi hanya ingin memposting dan apa reaksi masyarakat. terkadang ada kekhawatiran kalau cerita ini akan jadi bahan kecaman atau ini adalah sesuatu yang tidak boleh ditulis. tapi, ini adalah hobiku. aku merasa sayang jika hanya mengubur hobi.
ini cuplikan ceritaku....
Matahari meredup di siang hari menjelang sore itu. Bukan hanya karena bumi telah berotasi menjauhi posisi matahari, tetapi juga karena sinarnya tidak mampu lagi menembus awan-awan mendung yang tebal. Mendung kelabu telah mendominasi langit sore, seakan tidak ada celah lagi untuk cahaya matahari jatuh ke bumi. Tapi, hal itu bukan sesuatu yang harus Mio pedulikan. Gadis itu duduk terdiam dalam bus di kursi paling belakang di sebelah jendela. Dia memandang keluar jendela dengan tatapan kosong, seakan tidak peduli dengan teman-temannya yang sedang bercanda bahkan dengan pemandangan di luar yang sedang dilihatnya. Hanya saja hamparan bunga di padang luas itu seperti memaku penglihatannya. Bunga itu berukuran sedang, yang menarik adalah mahkotanya berbentuk bulan sabit lima helai dan juga warnanya yang kelabu seolah bunga itu hanya bunga transparan yang memantulkan warna kelabu dari mendung di atasnya.

Komentar